01 Juli, 2008

PELANGI ( #1 )

Memang terlambat bagiku untuk menulis hal ini, karena disini, di pelosok ini aku tidak bisa mendapatkan buku yang bagus dan berkualitas. Toko buku tidak ada, hanya ada lapak yang menjual buku-buku biasa saja yang kadang ketika aku ke sana melihat bukunya sudah agak lusuh dan seperti kurang terawat. Koran dan majalah memang ada. Bahkan Koran Jawa Pos langgananku itu, koran pagi ini datangnya nanti sore atau besok sore...dirapel hehehehe.

Diprovokasi oleh satu judul buku dengan banyak stok, buku di menjadi tumpuan pandangan banyak orang. Penasaran juga aku dibuatnya, apakah gerangan yang bikin orang pada berkerumun dan membolak-balik buku itu. Novel, ya sebuah novel yang aku sangat kurang suka membacanya. Kecuali dulu waktu masih SMP, di sekolah favorit itu aku rajin ke perpustakaan untuk meminjam novel, terutama cerita petualangan karangan Alfred Hitchock, judulnya empat sekawan ato lima sekawan ya …lali aku. Itupun karena dulu belum ada hiburan yang banyak seperti sekarang. Untuk mengisi waktu jika aku bingung mau ngerjain apa. Jaman itu juga bukan hanay di perpustakaan yang jadi jujukan untuk berburu buku cerita, di persewaan buku aku juga sering mencarinya. Tapi jika di persewaan bukan petualangan itu yang kucari, tapi WIRO SABLENG yang jadi andalan untuk kubaca hehehehe. Memang masa itu adalah masa keemasan Om Bastian Tito dan Wiro Sableng adalah bacaan pilihan orang-orang. Atau jika lagi liburan agak panjang, ada pilihan menarik untuk dibaca..Koo Phing Ho, yah…buku kecil tipis dengan seri yang sangat banyak membuat liburan tidak kosong. Bahkan karena kegemaran baca cerita silat ini, hamper semua kegiatan terlupakan. Makan, minum, kumpul sama teman, bahkan mandipun kalau nggak diteriakin Ibu bisa-bisa lupa huahahahaha. Adalagi buku andalan tahun-tahun itu…Lupus si manusia permen karet.yang rambutnya diuye-uyek di depan terus ditarik itu juga booming. Demsm lupus melanda dan aku juga kena imbasnya, tas dengan tali yang super duper panjang (kadang sampe nyret ke lantai hahaha) jadi miliku juga. Sampe ada pilemnya segala. Eh malah cerita buku jaman dulu…back to 80’s hehehe.

Novel…sebuah buku yang sudah sejak lulus SMP, sekitar tahun 1989, tidak lagi pernah kubaca. Jangankan untuk membaca, melihat bentuk bukunya rasanya males. Mungkin karena cerita yang ditawarkan tidak semenarik dulu, monoton dan terlalu banyak dipengaruhi dari penulis asing. Dan yang pasti, saat itu aku nggak punya cukup uang untuk mebelinya huahahaha. Juga mungkin karena waktu tersita untuk kumpul sama teman-teman, jadi udah nggak tertarik lagi ama buku gituan.

Kini, ada sebuah buku cerita, novel tepatnya, yang membuat aku harus terus berburu untuk mendapatkan tetraloginya. Aku nggak tahu kenapa saat itu aku ikut ngumpul sama orang-orang. Membaca sedikit ulasan di belakang sampul rasanya ini adalah buku bisa mengisi waktu luang setelah pulang kerja. Yah itung-itung sebagai pelepas lelah daripada nggak jelas mau ngerjain apa. Lumayan tebal untuk ukuran pembaca pemula “lagi” seperti aku.

Setelah aku membacanya, ternyata ada beberapa persamaan kecil antara aku dengan pengarang buku itu, bahwa kami suka bermain diwaktu hujan, suka usil ketika di masjid, suka ke bukit (kalo di Kediri Gunung Klotok hehehe).

Ada SEBUAH PERSAMAAN BESAR yang di ketiga buku itu tidak akan pernah tidak tertulis. Persamaan itu membuat aku makin suka dengan Tetraloginya, walupun buku ke empat belum diedarkan aku percaya pasti ada sedikit yang menyinggungnya, dan makin penasaran dengan Novel itu.

PERSAMAAN TERBESAR

itu adalah bahwa kami sama-sama mengidolakan

BANG HAJI RHOMA IRAMA.

5 Komentar:

Mbahe mengatakan...

Judulnya Laskar FPI ya? :d

T O N I C K mengatakan...

huahahahah ada ada aja si mbah ini .... ikut ke Monas ta hehehe

endangcinta mengatakan...

ealaaaah...nglethek maaas.......sampe ke Bang Rhoma......heheheh

T O N I C K mengatakan...

hehehehe namanya juga ADIDAS = Anak Desa Idola Dangdut Aliran Soneta hahahahah

zahroulaliyah mengatakan...

wah seneng WIRO SABLENG ta bpk e faiz ni???
pantesan...???*mikirrrr...*
*kaburrrrr...*