29 Januari, 2008

MAAFKANLAH

Saudara-saudara sekalian…Minggu kemarin telah meninggal dengan tenang Bapak Pembangunan kita. Mantan Presiden RI ke dua itu telah kembali ke Rahamatullah. Kembali kepada Sang Khalik dengan hanya dibungkus kain kafan. Tidak ada harta yang diikutkan untuk dibawa, tidak juga Pangkat yang berupa Bintang Lima di pundak bisa di banggakan ke Malaikat Izroil ikut di makamkan. Semua kemewahan dan kemegahan serta kekuatan dan kekuasaan yang pernah dinikmati di dunia tidak ada yang dibawa. Semua ditinggalkan..dibiarkan…gak ikut dirasakan lagi.

Sebagai Presiden, dia telah banyak membantu memajukan kesejahteraan masyarakat dan rakyat Indonesia. Dari Inflasi 650% bisa turun hingga menjadi 13% saja (JP senin 28/01/2008 hal 4). Jika tidak memiliki jiwa pemimpin belum tentu ada yang bisa mengkoordinir ekonom-ekonom di Indonesia untuk menurunkan angka itu. Pembangunan fisik juga berjalan dengan cepat…terutama pembangunan di bidang pertanian yang merupakan andalan Indonesia sebagai negara Agraris.

Masyarakat di pelosok seperti di sini, ditempatku sini, juga merasakan apa yang pernah kurasakan dulu saat di Tanah Jawa. Obrolan saat ini di warung nasi, pelabuhan speed, toko kelontong , Pasar Induk tidak jauh dari masalah ekonomi rakyat kecil jaman dulu. Ungkapan seperti “Jaman Suharto dulu barang barang murah, nggak susah nyarinya, pupuk murah, beras banyak, sekolah bayar murah, buku dari kakak sampai adik gak perlul ganti, pokoke serba gampang” nggak sedikit yang mengungkapkan. Sekarang kebalikannya” beras mahal, sekolah gratis tapi buku nya gak karuan harganya, apalagi tiap semester ganti tapi isinya hampir sama dengan yang lama. Bensin antri, minyak tanah kadang gak terbeli karena kosong di agen, bayam yang biasa seikat cuman seribu eh sekarang jadi dua ribu itupun dengan ikatan yang megurus. Kapan ya jaman SBY bisa seperti itu jamannya Soeharto?

Itu hanya sebagian kecil yang bisa saya dengar dari orang-orang di sini, nggak tahu kalo di tempat lain, sepertinya nggak banyak beda karena di tipi kemarin juga banyak masyarakat yang komentar gitu.

Sebagai manusia biasa, Soeharto juga ada kesalahan, seperti kita juga yang punya kesalahan. Entah itu sengaja ataupun yang nggak sengaja pasti dia memilikinya. Sebagai orang beriman dan berbudaya serta memiliki hati nurani, mari kita MEMAAFKAN segala kesalahan Beliau dengan Ikhlas. Dengan hati yang bersih.

Untuk proses Hukum jika memang ada saya nggak bilang apa-apa, karena saya nggak paham hukum.

Innalillahi wa inaillaihi rajiun

Saya turut berduka dan berbelasungkawa

gambar dari sini & sini

1 Komentar:

de mengatakan...

ya..ya.. sudah tak maafken. tapi balekno hasil korupsine hehehe